Pendidikan

Kiev 1240, Kyiv 2022, Oleh : Trias Kuncahyono( wartawan Kompas 1988-2018)

PENGEPUNGAN Kyiv, ibu kota Ukraina saat ini mengingatkan cerita tentang Kiev 1240 dan Bahgdad 1258. Baik Kiev maupun Baghdad dikepung dan kemudian ditaklukkan, dihancurkan, penduduknya dibantai oleh para penakluk dari Timur, orang-orang Mongol.

Kali ini, Kyiv juga ditaklukkan oleh pasukan dari Timur: Rusia.

 Setelah mengepung Kiev mulai 28 November 1240, pada tanggal 6 Desember 1240, pasukan Mongol di bawah pimpinan Batu Khan, memasuki kota Kiev.

Pada hari kesembilan pengepungan, tulis Rashid-ad-Din Hamadani, sebuah catatan versi Mongol, Kiev jatuh. Batu Khan (1205-1255) adalah cucu Genghis Khan.

Cucu Genghis Khan ini dikenal sebagai panglima militer yang hebat. Ia lah yang memimpin pasukan Mongol menaklukkan wilayah-wilayah dari China hingga Persia. Penaklukan Kiev ini sangat penting artinya bagi invasi pasukan Mongol. Sebab, setelah menaklukan Kiev, pasukan Mongol terus bergerak ke Barat.

Mereka menaklukkan Polandia, Hongaria, dan sejumlah negara Barat lainnya dalam invasi militer dari 1236-1241 (World History Incyclopedia). Maka Alexander V Maiov (2016) menulis penaklukan Kiev menjadi salah satu peristiwa penting dalam invasi militer oleh tentara Batu Khan ke Barat.

Tragedi ini ditulis hampir di semua Kronikel Rusia. Jatuhnya Kiev (Ukraina) laksana robohnya benteng Barat, dan hilangnya penghambat gerakan pasukan Mongol ke wilayah Eropa lebih jauh. Kota Kiev dibakar. Dihancurkan. Korban manusia demikian banyak.

baca juga : Putin Testing The Water Oleh : Trias Kuncahyono.

Sebelum invasi tentara Mongol, peduduk Kyiv berjumlah sekitar 500.000 orang; setelah invasi tinggal 2.000 orang yang hidup! Menurut dokumen The Sack of Kiev of 1482 in Contemporary Muscovite Chronicle Writing, pada tanggal 1 September 1482, untuk kedua kalinya Kiev diserang pasukan Mongol.

Mereka masuk lewat Krimea. Gubernur Militer Kiev saat itu, Pan Ivan Khodevich melarikan diri (tetapi dia kemudian ditangkap), banyak orang dikubur hidup-hidup. Kota dijarah secara brutal. Pada 1 September 1482, untuk kedua kalinya, Kiev diserang pasukan Mongol. Kali ini, mereka masuk lewat Krimea.

Lima abad kemudian, setelah Revolusi Bolshevik (1917), pecah perang lagi di Ukraina yang dikenal dengan nama Perang Soviet-Ukraina atau Perang Saudara Ukraina (Encyclopedia Ukraine). Istilah ini biasa digunakan di Ukraina pasca-Soviet untuk menyebut perang yang terjadi antara 1917-1921, yang sebenarnya terjadi antara Republik Rakyat Ukraina dan Bolshevik (Republik Soviet Ukraina dan Republik Sosialis Federatif Soviet Rusia/Russian Soviet Federative Socialist Republic/RSFSR).

Tradisi sejarah Soviet memandang yang terjadi saat itu sebagai pendudukan Ukraina oleh kekuatan militer Eropa Barat dan Tengah, termasuk militer Republik Polandia. Dan, kemenangan Bolshevik yang merupakan pembebasan Ukraina dari kekuatan itu.

Sebaliknya, sejarawan Ukraina modern menganggapnya sebagai perang kemerdekaan yang gagal oleh Republik Rakyat Ukraina melawan Bolshevik. Sejarah, memang, cenderung berpihak pada yang menang. Di masa itulah pecah “Battle of Kiev”. Pada tanggal 29 Januari 1918—maka disebut Pemberontakan Januari—pasukan Bolshevik menyerbu Kiev, merebut, dan mendudukinya.

Pernyerbuan ini terjadi di tengah perundingan perdamaian di Brest-Litovks (sekarang, Brest, Belarusia; negara tetangga sebelah utara Ukraina yang berkiblat ke Moskwa. Dari negara ini, antara lain, pasukan Rusia kemarin dulu masuk Ukraina, dan di Belarusia pula perundingan gagal itu dilaksanakan).

Baca Juga : MELIHAT UKRAINA DARI KACAMATA Oleh Trias Kuncahyono 

Tragedi kemanusiaan terjadi di Kiev pada tahun 1930-an di zaman Joseph Stalin berkuasa. Diktator Uni Soviet ini memerintahkan genosida terhadap orang-orang Ukraina (History of Ukraine: The genocide of Ukrainians by Stalin). Ia mengeluarkan empat perintah untuk mencegah Ukraina merdeka, lepas dari Moskwa.

Perintah pertama, menghancurkan otak intelektual Ukraina: para penulis, seniman, ilmuwan, insinyur, manajer, dokter, dan guru. Kedua, untuk merobek “hati” Ukraina dengan menyingkirkan para pemimpin agama (pastor dan pendeta), pemimpin spiritual, dan para pemimpin agama yang tidak dapat dikendalikan Moskwa.

Ketiga, melenyapkan kaum tani Ukraina pemilik lahan pertanian. Keempat, melenyapkan semua bahasa dan budaya Ukraina di luar perbatasan Republik Sosialis Soviet Ukraina, yaitu di Rusia, termasuk Kuban, Kaukasus Utara, daerah-daerah tertentu di Timur Jauh. Maka terjadilah apa yang disebut holodomor—kelaparan buatan yang direkayasa pemerintah Stalin.

Korban utama holodomor—secara harfiah “kematian akibat kelaparan”—adalah petani dan penduduk desa, yang merupakan sekitar 80 persen dari populasi Ukraina pada 1930-an. Diperkirakan jumlah korban antara 3,5 juta hingga 7 juta.

Kata Andrea Graziosi dari Universitas Napoli, Italia, holodomor ini adalah genosida pertama yang direncanakan secara metodis dan dilakukan dengan merampas makanan dari orang-orang yang memproduksi makanan mereka (untuk bertahan hidup). Perampasan makanan itu digunakan sebagai senjata genosida dan itu dilakukan di wilayah dunia yang dikenal sebagai ‘breadbasket of Europe’, keranjang roti Eropa (University of Minnesota).

Ketika pecah PD II, Jerman menginvasi Kiev, 1941. Penduduk kota menyaksikan salah satu pembantaian paling buruk dalam sejarah manusia: paling kurang 33.771 Yahudi dari Kiev dan daerah-daerah sekitarnya dibunuh oleh tentara SS Nazi. Pasca-PDII, pemerintah Soviet melakukan penindasan sistematis terhadap kaum intelektual pro-Ukraina yang disebut sebagai “kaum nasionalis.” Tindakan ini dilakukan untuk menindas, membunuh nasionalisme Ukraina.

baca juga : Hartopo Beri Dukungan Moral dan Bantuan untuk Alwi

 Kini Kyiv—menurut Jane Lytvynenko, a senior research fellow di Harvard dari Ukraina, kata “Kiev” diambil dari bahasa Rusia, “Kyiv” bahasa Ukraina—jatuh ke tangan Rusia. Penggunaan kata Kyiv (sesuai dengan nama—menurut legenda salah satu pendiri kota itu, yakni Pangeran Kyi.

Ia bersama dua saudara laki-laki—Shcheck dan Khoriv—dan seorang saudara perempuan, Lybid, mendirikan kota itu sekitar tahun 482. Mereka adalah para pemimpin suku Polyania, Slav Timur. Dalam bahasa Ukraina Kyiv berarti “kota Kyi”). Kata “Kyiv” dipilih sebagai simbol perlawanan rakyat Ukraina dalam usaha membebaskan diri dari Uni Soviet.

 Setelah sistem Uni Soviet ambruk, di Polandia, Hongaria, dan Czechoslovakia memerdekakan diri, Ukraina menyusul. Mereka memerdekakan diri lepas dari Uni Soviet, 16 Juli 1990.

Setahun kemudian 21 Agustus 1991, mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka penuh. Setelah Uni Soviet ambruk, 1991, kota Kiev lalu disebut Kyiv. Dan, pada tahun 1995, pemerintah Ukraina secara resmi menyebutnya Kyiv.

Ini menegaskan pada masyarakat internasional bahwa Ukraina bukan lagi bagian dari Rusia, tetapi telah menjadi negara merdeka.

 Mereka lepas-bebas dari Moskwa. Kyiv menjadi pusat pertarungan ideologi antara yang pro-Eropa (Barat) dan Russophile (pro-Rusia). Pemilu presiden November 2004 menjadi medan pertarungan itu dan membawa Ukraina ke jurang perpecahan.

Presiden Leonid Kuchma mendukung kandidat pro-Rusia dan didukung Vladimir Putin, yakni PM Viktor Yanukovych. Lawannya, kandidat pro-Barat didukung kelompok oposisi, Viktor Yushchenko.

Hasil pemilu putaran pertama, 31 Oktober, kedua kandidat masing-masing merebut suara 40 persen. Yanukovych memenangi wilayah Timur, yang sebagian besar penduduknya adalah orang Rusia. Wilayah Barat dan Kiev memilih Yuschenko.

Pada putaran kedua, November, pemerintah menyatakan Yanukovych sebagai pemenang. Pendukung Yuschenko menuduh ada penipuan dan kecurangan. Mereka menggelar protes massal yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Oranye.

Baca Juga : Lagi, Tiga Warga Kudus Meninggal Akibat Covid-19

 Demonstrasi besar-besaran meletus; Pendukung Yanukovych di timur mengancam akan memisahkan diri dari Ukraina (dan bergabung dengan Rusia; Sekarang Wilayah Luhanks dan Donets sudah memisahkan diri) jika hasilnya dibatalkan.

Putaran ketiga digelar pada 26 Desember. Yuschenko menang, meraih 52 persen suara. Ia mulai 23 Januari 2005, menjadi presiden. Kali ini, Rusia kalah. Pada pemilu presiden 7 February 2010, kandidat dukungan Rusia, Yanukovych, menang. Sebagai presiden, Yanukovych segera menunjukkan kecenderungannya yang pro-Rusia.

Pada April 2010, ia membuat kesepakatan dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Berdasarkan perjanjian itu Rusia bisa memperpanjang sewa atas pelabuhan di Sevastopol, pangkalan Armada Laut Hitam Rusia, hingga 2042. Sebagai gantinya, Ukraina akan menerima pengurangan harga gas alam Rusia.

Pertarungan terus berlanjut. Frustasi rakyat terhadap pemerintah yang mengikuti kemauan Rusia, meledak mulai 21 November 2013 dan berakhir 20 Februari 2014, yang disebut sebagai Revolusi Maidan (Lapangan Kemerdekaan sama dengan Taqrir Square di Cairo).

Orang Ukraina lebih suka menyebutnya sebagai Revolusi Martabat; karena lewat revolusi ini martabat mereka sebagai bangsa dipulihkan dengan menyingkirkan presiden yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Revolusi ini berdarah-darah. Menelan 108 korban jiwa.

Setelah revolusi lahir, pemerintah baru berpaling ke Barat dan mencari hubungan lebih dekat dengan Uni Eropa dan NATO. Tetapi, Rusia terus bergerak dan menganeksasi Krimea pada tahun yang sama.

Kebijakan pro-Barat inilah yang sekarang ini menjadi casus belli, pemicu perang, alasan Vladimir Putih mengerahkan pasukannya masuk Ukraina. Dan, cerita Kiev 1240, berulang pada 2022 ini. Bukan Batu Khan yang menundukkan Kyiv, tetapi Vladimir Putin. “Razom nas bahato! Nas ne podolaty!” Bersama, kita banyak! Kita tidak dapat dikalahkan. Teriak penduduk KYIV di tengah gempuran meriam dan rudal Rusia.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button