BudayaKudusReligi

Pertapan Eyang Buyut Sakri di Rahtawu

Kudus, Dupanews.id – Pangling ketika mengunjungi pertapaan eyang buyut ( keturunan ketiga) Sakri yang terletak di Desa Rahtawu Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus, Sabtu (7/8/2021). Setelah terakhir kali berkunjung ke sana pertengahan 2019.
Meski lokasinya tidak berubah. Di pojok kanan seberang jalan Kantor Balai Desa Rahtawu nampak pertigaan jalan. Lalu belok kiri. Menuruni jalan beraspal mulus kurang dari 100 meter. Berada di kiri jalan. Berdekatan dengan jembatan panjang yang pernah hanyut terseret banjir bandang. Di seputar lokasi ini pernah ada sebuah candi, namun juga lenyap tak berbekas dilahap air bah.


Di samping kanan ruang depan yang lumayan luas terlihat sebuah papan nama besar bertuliskan huruf Jawa dan Indonesia ; Pertapan Eyang Buyut Sakri Rahtawu Gebog Kudus. Dan dibawahnya “spanduk Covid-19 “ (tamu yang datang dan masuk pertapan wajib pakai masker, cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak).


Menginjakkan kaki ke dalam ruang depan disambut jurukunci yang tengah duduk beralaskan tikar dan disampingnya ada sebuah meja kecil yang diatasnya terlihat sebuah buku tamu. Juga terlihat ebuah papan bertuliskan : enam tata tertib yang ditanda-tangani Kepala Desa Rahtawu Rasmadi Didik Aryadi


Lalu masuk ke dalam “cungkup” yang disekat di bagian sudutnya dengan sebuah meja tulis beserta kursi. Dan disekelilingnya terlihat sejumlah foto berpigura. Kemudian melangkah ke ruang pertapan yang terlihat tempat untuk meletakkan bunga sesaji dan membakar dupa/kemenyan. Agar asap tidak mbuleg dan menyesakan nafas telah dibuatkan cerobong asap.Sedang di seberang depan komplek pertapan. Kini sudah terbangun tempat parkir yang cukup luas.

baca juga : Mbah Saneman, Manusia Tertua di Kudus, Umurnya 109 Tahun


Konon pertapan yang semula berada di tengah hutan belantara ini mulai dibangun secara bertahap pada tahun 1955 dari kas desa dan bantuan pihak ke tiga.
Bahan yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan : silsilah Begawan Sakri adalah bermula dari Brahma yang menurunkan Brahmanaraja -> Tritrustra -> Parikenan -> Resi Manumanasa. Yang disebut terakhir menikah dengan Dewi Retnawati yang menurunkan Satrukem (Sakutrem). Selanjutnya Resi Satrukem menikahi Dewi Nilawati dan menurunkan Sakri.


Lalu masyarakat Rahtawu mempercayai: Begawan Eyang Sakri adalah seorang tokoh Jawa kuno yang babat alas atau membuka permukiman pertama kali di wilayah itu dan hidup sebelum Pendawa Lima. Dalam kisah pewayangan, Begawan atau Betara Sakri adalah keturunan keluarga Sapta Arga yang menikah dengan Dewi Sati dari keturunan Arjuna Sasrabahu, dan kemudian menurunkan Pandawa dan Kurawa


Pertapan Eyang Sakri berada di paling bawah dan menjadi pertapan awal untuk dikunjungi sebagai jalur ritual sebelum tiba di puncak sanga likur. Bisa dijadikan simbul kehidupan seseorang yang ingin mencapai sukses harus melalui tahapan.
Jika merujuk pada penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Balai Arkeologi Jogya tahun 1988/1999, ada 16 titik untuk mencapai puncak sanga likur tersebut.
Dan ritual itu dianggap sempurna jika satu persatu titik itu dilalui. Butuh kesabaran dan butuh “laku” yang tidak ringan. Sebuah perjalanan religius dan sekaligus belajar tentang alam dan lingkungan.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button