KudusSosial
Trending

Teka Teki Limbah Hitam Pekat di Jatiwetan Kudus

                Kudus, Dupanews – Banjir yang melanda 16 desa di tiga wilayah kecamatan di Kabupaten Kudus selain belum surut sepenuhnya. Juga munculnya  air banjir yang berwarna hitam pekat di seputar wilayah Desa Jati Wetan Kecamatan Jati.

          Hal ini menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat, sejumlah anggota DPRD hingga Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus, Hartopo. Plt sudah memerintahkan kepada Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) untuk mengambil sampel dan meneliti hasilnya di laboratorium. “Sampai sekarang belum diketahui hasilnya,” tutur Kepala Dinas PKPLH, Agung Karyanto yang dihubungi Dupanews, Rabu petang (10/2/2021).

          Tudingan banyak pihak ditujukan kepada Pura Group Kudus (PGK), sebagai penyebab munculnya limbah hitam tersebut. Diduga terjadi kebocoran di komplek Unit Pengolah Limbah (UPL), saluran limbah yang menujui UPL atau limbah dari unit kerja II di wilayah Desa Jati Wetan. Beberapa puluh meter di belakang komplek Kantor Kecamatan Jati.

          Sambil menunggu hasil laborarotorium dari Semarang tersebut, Dupanews sajikan data resmi dari PGK di tahun 2002 melalui keterangan tertulis tentang UPL yang berada di seputar jembatan Kencing .

          UPL dibangun dan dipersiapkan  sejak 1994 dan beroperasi penuh pada 1996. Dirancang Ir Edy Kuncoro dari PT Pura Barutama (PGK). Berkapasitas 6.500 – 7.000 meter kubik per hari. Dengan waktu proses  24 jam produksi dan ditangani karyawan secara bergantian tiga shift.Sedang biaya operasionalnya Rp 135 juta per bulan.

          Memperoleh ijin pembuangan limbah cair pada  2001. Melakukan pengujuian limbah cair setiap  bulan. Dan mendapatkan ISO 14001 setelah lolos dari audit manajemen lingkungan Sucofindo Januari 2002. ISO 14001 adalah standar internasional sistem manejemen lingkungan.

          Di Indonesia saat itu yang memperoleh ISO 14001 tercatat 300 perusahaan dan di tingkat Provinsi Jawa Tengah  baru sekitar 15 perusahaan saja.

          Diduga seiring dengan meningkatnya  jenis usaha dan dibarengi peningkatan limbah cair mengakibatkan terjadinya kebocoran di lingkungan UPL. Terutama pada jam operasional puncak.(sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button