KudusKuliner

Mitos Parijotho dan Sains

Kudus, Dupanews.id – Pertengah 2020, sempat muncul “kegaduhan” tentang tanaman Parijotho. Setelah tanaman ini resmi terdaftar di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Nasional sebagai varietas lokal Jepara.

Sejumlah warga Kudus protes dan Dinas Pertanian Kabupaten Kudus pun meresponnya dengan “naik banding” ke BPTP nasional. Namun sampai dengan Minggu (11/4/2021) belum ada kabar beritanya. “Saya “wong cilik” tidak tahu menahu masalah tersebut, Yang pasti menurut saya  luas tanaman parijotho di wilayah Kabupaten Kudus . jauh lebih luas di banding dengan Jepara. Selain itu tetap dirawat, dilestarikan dan dikembangkan,” tutur Marlan warga Desa Dukuhwaringin Dawe (Kudus)

Buah Parijoto
Buah Parijoto

Terlepas dari hal tersebut parijotho selalu dihubungkan dengan mitos. Yaitu berawal dari isteri Sunan Muria yang tinggal di  seputar Gunung Muria. Setiap kali hamil  sering memakan buah parijoto yang diperoleh di seputar kebunnya.

Efeknya ketika sang bayi yang dilahirkan  berkulit bersih dan sehat.Mulai saat itu berkembanglah dari mulut ke mulut. Jika ibu-ibu hamil dan mengkomsumsi buah parijoto, maka anak yang dilahirkan dipastikan  cantik untuk berkelamin  perempuan dan yang pria ganteng/tampan,

Sunan Muria lahir  pada tahun 1450 Masehi dan diberi nama Raden Said atau Raden Umar Syahid. Nama kecilnya Raden Prawoto. Putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh( putri dari Maulana Ishaq).

Baca Juga : Marlan, Melestarikan dan Mengembangkan Parijotho

Saat berita ini ditulis per Minggu (11/4/2021) mitos ini sudah “berusia “ sekitar 500 tahun. Dan tanaman parijotho yang berada  di kawasan Gunung Muria, Desa Colo, Desa Kajar, Ternadi, Japan (Kecamatan Dawe Kudus) hingga Desa Rahtawu (Gebog/Kudus) sampai sekarang masih lestari. Ada sekitar lima hektar lebih,

Dengan tersedianya tanaman seluas tersebut, maka sampai sekarang pun, para peziarah makam Sunan Muria di Desa Colo, masih tetap bisa membeli dengan mudah buah parijotho yang dijajakan para pedagang kaki lima . Juga ada sejumlah pengusaha  yang memproses buah parijotho menjadi sirup.

Menurut , Kholidin dan Anik dari Universitas Muria Kudus (UMK), buah parijoto atau nama latinnya Medinella speciosa L. Secara medis sebenarnya memiliki kandungan bahan kimia saponin dan kardenolin pada daun dan buahnya, Sedang buahnya mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tannin yang berkhasiat sebagai obat sariawan dan obat diare.

Termasuk tumbuhan perdu dengan ketinggian 1-2 meter. Berdaun tunggal, berakar serabut,  berbatang kecil dengan lapisan gabus dan  umumnya berbuah pada  Maret – Mei. Mudah dikembang-biakkan, tanpa memerlukan perawatan khusus.

Baca Juga : Bunga Tabur di Malam Jumat Peluang Sumber Penghasilan

Mengingat rasa buah parijotho  ini sedikit asam dan pahit, maka cara mengkomsumsi yang tepat dengan dibuat rujak atau pecel

Tanaman ini juga  tergolong tanaman hias, dengan tinggi sekitar 1-2 meter. Namun hanya hidup- tumbuh dan  di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Khusus di Desa Colo,  berada sekitar 3-4 kilometer dari jalan raya. Sulit dijangkau saat musim hujan, karena medannya campuran tanah liat, batuan kecil dan berada di bagian hutan Gunung Muria. Tergolong tanaman asli dari sekitar 80 jenis tanaman asli/khas lainnya yang berada di gunung dengan ketinggian 1.602 meter di atas permukaan air laut

Dalam bahasa latin, Medinilla speciosa, berasal dari nama gubernur Republik Mauritius yang menjabat pada tahun 1820. Pada masa itu, Mauritius masih bernama Kepulauan Marianne. Nama gubernur yang dimaksud adalah José de medinilla y Pineda. Belum diketahui secara jelas dari mana asal usul tanaman parijotho tersebut (Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button