Kesehatan

Terminal Bakalan Krapyak Sunyi Ada Bangunan Mangkrak

Kudus, Dupanews.id – Terminal wisata Bakalan Krapyak sepanjang Senin (12/4/2021) sunyi-sepi. Tidak ada satu pun bus antar kota dan antar provinsi , maupun bus mini – yang lebih dikenal dengan Elf yang nampak. Begitu pula pengojek motor, dokar, becak hingga angkutan umum.

Namun di seputar komplek Masjid Menara Makam Sunan Kudus (M3SK) masih nampak sejumlah peziarah, Umumnya mereka peziarah yang “membawa” mobil sendiri. Termasuk kendaraan roda dua (motor),

Bagi pengojek maupun pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di dua lokasi tersebut, kondisi seperti ini memang terjadi setiap tahun. “Sejak menjelang hari pertama puasa hingga Idul Fitri. Itulah bulan “paceklik” bagi kami semua. Hanya saja dengan adanya Covid-19, maka  penghasilan kami  merosot drastis, Untung selama dua minggu terakhir lumayan banyak peziarah yang ke Kudus,” ujar Umiatun salah satu PKL yang tinggal di seputar Bakalan Krapyak.      

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Perhubungan yang saat itu dijabat Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Samani Intakoris membangun “kantong” parkir. Dengan biaya Rp 6,4 miliar yang dioperasikan Agustus 2018.

Tempat parkir becak yang sebenarnya masih sangat layak huni digusur dengan bangunan baru  berukuran 30 x  27 meter. Di bagian sisi utara dibangun sejumlah tempat duduk.

Baca Juga : Sungai Kencing, Sengsara Desa Jati Wetan

Sedang beberapa meter di selatan parkir becak terdapat bangunan memanjang dengan banyak pilar dan tempat duduk dari bahan keramik yang serba putih, Tempat ini sampai sekarang belum pernah “dinikmati” banyak pengunjung-mangkrak,  Tidak-belum diketahui berapa biaya pembangunannya.

Sedang kantong parkir lainnya berupa  “lapangan beton” berukuran  70 x 30 meter yang diproyeksikan mampu menampung 100 bus. Ini merupakan bentuk perluasan dari lokasi parkir lama yang berada di samping timur. Atau depan kantor terminal wisata Bakalan Krapyak.

Parkir bus baru tersebut sampai sekarang pun belum juga berfungsi. Hampir setiap hari dijadikan tempat latihan mengendarai mobil. Juga untuk uji nyali pemotor dan “pesepeda”, bagi kawula muda. Sedang di pojok depan ( jalan masuk) sering dipakai untuk parkir truk truk “bertubuh” panjang.

Baca Juga : Berjubel Peziarah Sunan Kudus

Kesibukan lain yang dipantau Dupanews, di pekuburan umum Desa Kaliputu, Bakalan Krapyak, Ploso dan sejumlah pekuburan yang arealnya tidak begitu luas- banyak warga yang “nyekar” ( tabur bunga), “ Tradisi nyadran atau bersih bersih kubur dan tabur bunga menjelang puasa adalah salah satu tradisi-budaya bagi “wong Jowo”. Jika sampai sekarang masih ada, itulah bagian semua pihak untuk nguri nguri. Itu tidak mengenal perbedaan agama ( tidak melulu satu golongan agama tertentu), “ ujar Abu Bakar

 Sedangkan puluhan bakul kembang  nampak menjajakan dagangannya, sejak dari pojok  proliman Barongan ( depan masjid) hingga beberapa meter ke arah utara. Bahkan beberapa pot bunga ukuran besar sempat dijadikan alas untuk berjualan. Selain itu sejumlah warung dan toko di sejumlah ruas jalan tutup. Lalu di pasar pasar tradsional nampak ada peningkatan pembeli. (Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button