BudayaKudus

Tedak Siten atau Tradisi Mudun Lemah Sudah Langka

Kudus, Dupanews.id – Hampir dua puluh tahun (20 tahun) terakhir ini kita jarang mendengar istilah mudun lemah / tedak siten / lungguh ketan. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat jawa yang masih mempercayai dan memegang erat akan tradisi dan budaya Jawa atau budaya leluhur.

Upacara mudun lemah atau tedak Siten biasanya dilakukan ketika anak sudah berusia 7 lapan atau kira kira umur 8 bulan. Dimana anak usia tersebut mulai latihan berjalan Andan Andan atau mulai menapakkan kaki di tanah atau latihan jalan alias latihan mlaku.

Oleh masyarat jawa pada zaman dahulu seorang anak ketika mulai jalan tentunya tidak asal jalan. Namun didahului dengan upacara adat yang sering kita dengar dengan istilah ” Mudun Lemah / Tedak Siten “

Adapun tata caranya beragam sesuai kebiasaan daerah masing masing, contoh putra dari Al Andim. Anaknya di tuntun atau berjalan sambil dipegangi menaiki anak tangga. Dengan harapan tiap naik anak tangga naik juga kepintaran, derajat, akhlak, kebagusan dan yang lainnya. Kemudian dimasukkan kedalam kurungan yang telah di hias dan didudukkan diatas gemblong.

Upacara Tedak Siten Turun Tanah
Upacara Tedak Siten Turun Tanah

Setelah anaknya duduk diatas ketan dalam keranjang didalamnya juga diberi buku tulis, bolpoin, kitab, uang, serta air kembang. Dengan harapan ketika anak memilih polpoin atau pensil dan buku. Berarti anak memilih ilmu yang bermanfaat. Dimana seperti yang kita tahu ilmu sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan kita baik di dunia dan akhirat. Kemudian ada kitab diharapkan kelak ketika besar anak dapat mengaji menjadi orang yang santu. Adalagi uang diharapkan ketika anak memilih uang kelak dapat menjadi orang yang kaya memiliki harta yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Anak Dimasukkan kedalam keranjang
Anak Dimasukkan kedalam keranjang

Yang terakhir ada air dicapur dengan kembang setaman. Air itu melambangkan kehidupan kesucian, bunga melambangkan keharuman. Harapannya sang anak kelak kalu dewasa dapat menolong sesame mengharuman namanya memiliki nama yang besar. kemudian selagi anak memilih  barang yang ada didalam keranjang juga diringi dengan lantunan do’a yang diaminkan oleh anak-anak yang hadir diacara tedak siten.

Setelah do’a selesai kemudian beras kuning bersamaan uang receh disebar dan direbutkan oleh anak-anak yang hadir diacara tedak siten tersebut tentunya dengan niat dan tujuan membuang sengkolo (keburukan). Setelah selesai upacara adat, semua maknaan  baru dibagi kepada yang hadir tetangga dan sanak saudara.

Tentu semua upacara atau tradisi ini dilakukan bukan tanpa alasan. Konon ceritanya orang-orang terdahulu percaya akan tradisi ini. Ketika bocah wes wayahe mlaku ora diupacarani mudun lemah dikhawatirkan seoarang anak geringen / kurus karena dimakan lempung katanya.

Akan tetapi semua itu terserah keyakinan masing-masing. Begitu kata Mbah no yang sering ngruwat dan sering melaksanakan tradisi para leluhur Jawa. (Rk)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button