Kudus

Mbulusan, Legenda Sunan Muria dan Mbah Dudho

KUDUS, Dupanews – Mbulusan- bulusan sebuah legenda – cerita rakyat tentang Sunan Muria dan Mbah Dhudha (Dhudho) bagai kembali menggema setiap bada kupat-kupatan atau syawalan. Yang tahun ini 2021 jatuh pada Rabu , 19 Mei

Menurut Juru Kunci petilasan Mbah Dudho komplek Balai Bowo Leksono ( BBL) Sudarsih (66) Sunan Muria adalah salah satu diantara Wali Sanga (Sembilan) yang bermukim, meninggal dan disemayamkan di Gunung Muria. Beliau juga dikenal pencipta tembang Sinom dan Kinanti.Sedang Mbah Dudho adalah salah seorang pejabat Kerajaan Mataram, seorang kiai dan  sekaligus ahli nujum.

Berawal pada  suatu malam Sunan Muria dalam sebuah perjalanan melihat ada sejumlah warga yang ndaut (membersihkan  rumput yang berada di seputar tanaman tanaman).

Sudiarsih (66) foto Sup
Sudiarsih (66) foto Sup

Kemudian beliau menanyakan kepada sejumlah pengiringnya,mengapa malam-malam masih ‘’krubyak-krubyuk’’ seperti bulus. Apalagi saat itu masuk bulan Ramadhan.

Ternyata yang krubyak krubyuk itu  Kiai Dudho beserta pengikutnya . Entah bagaimana sesungguhnya yang terjadi, ceritera rakyat itu menyatakan Kiai Dudho dan pengikutnya mendadak  menjelma menjadi bulus (kura-kura).

Sebelum meninggalkan lokasi, Sunan Muria sempat berkata, bahwa suatu saat – terutama setiap minggu setelah hari raya idul fitri, yang bertepatan dengan Bada Kupat, lokasi Mbah Dudho dan pengikutnya menjadi bulus akan dikunjungi banyak warga.

Lokasinya berada di Dukuh/Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo. Sekitar 750 meter tepi jalan raya Kudus- Pati- kilometer tiga ( dari Alun Alun Simpang Tujuh- pusat pemerintahan Kabupaten Kudus)

Sebuah tempat yang dikeramatkan, berupa sendang bernama Mbah Dudho dan sebuah bangunan yang disebut Balai Bowo Leksono(BBL). Di lokasi ini terdapat sebuah sungai kecil yang dikelilingi beberapa pohon tinggi, besar dan berdaun rimbun, sehingga seputar lokasi menjadi teduh.

Baca Juga : Selamat Datang Kudus Gasik Selamat Tinggal Kudus Semarak

Salah satu pohon diantaranya dikenal sebagai pohon gayam yang umurnya lebih dari satu abad..Di komplek ini juga terlihat ada bangunan kecil untuk memelihara sejumlah bulus.

Sedang Bulusan asal kata dari bulus (bahasa Jawa) yang artinya hewan bersisik berkaki empat dan terbagi menjadi tiga kelompok . Yaitu penyu ( sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Kura kura dibedakan antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

Lalu menurut  pemerhati sejarah asal Desa Hadipolo, Soekojo Yosodipuro. Bale Bawa Leksono itu artinya dalam bahasa Jawa panggonan kanggo netepi sing dadi ujar. Atau tempat untuk menepati janji yang pernah diucapkan seseorang. BBW ini dibangun Bupati Jepara  Sosroningrat. Ayah dari Raden Ajeng Kartini dan  sempat dipugar sekitar tahun 1980. serta ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

Sudarsih yang merupakan jurukunci keturunan ketiga dan sekaligus juru pelihara benda cagar budaya ini juga menjelaskan. Komplek Sendang Bulusan dan BBL setiap harinya nyaris dikunjungi sejumlah warga yang berdatangan dari berbagai penjuru wilayah Kudus dan wilayah kabupaten/kota lainnya.

seekpr bulus yang berada di komplek Mbulusan Foto Sup
seekpr bulus yang berada di komplek Mbulusan Foto Sup

Komplek BBL juga dijadikan ajang “bertapa” bagi sejumlah pengusaha yang bangkrut, hingga tempat  merayakan syukuran karena keberhasilan dalam banyak hal . Khusus bagi warga Dukuh Sumber  yang punya hajat biasanya caos dhahar (memberi makan) kepada  Mbah Dudo  melalui sang juru kunci dan umumnya berupa telur rebus.

baca Juga : Kudus GASIK, Program Baru Pemkab Kudus Guna Menata Estetika Wilayah

Sedang  tiga bulus yang  ditempatkan samping kanan BBL merupakan sumbangan dari sejumlah warga setempat. . Bulus-bulus yang kali pertama berada di sini tidak pernah diketahui sudah mati atau belum. Sebab tidak pernah ditemukan bangkainya dan tiba-tiba saja pada suatu saat muncul beberapa ekor bulus lagi. Entah dari mana,”  ujar Sudarsih .

Ritual Mbulusan kali ini tidak dimeriahkan puluhan- ratusan pedagang kaki lima (PKL) dan dihadiri ribuan warga- terkait dengan Covid-19. Juga tidak ada kirab budaya yang pernah dirintis almarhum Aries Djunaidi mantan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kudus. Namun acara rutin “resik-resik sendang” dan tahlil umum tetap dilakukan dengan mentrapkan protokol kesehatan.(sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button