Pendidikan

Seni Karawitan di Kudus Mendekati Punah ?

Kudus,Dupanews.id- Minggu siang (18/9/2022) di komplek kantor-balai desa Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu (Kudus) digelar karawitan. Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Kudus ke 473. Syafie Noor tidak tahu menahu nama grup karawitan yang tampil. “ Mboten ngertos.Semuanya dari dinas.Kami hanya ketempatan saja” jawabnya lewat Whats App (WA).

                Sedang pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan and Parwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah- atau biasa dipanggil Tika, malah samasekali tidak membalas WA yang dikirimkan Dupanews.id.

Sehingga memunculkan banyak dugaan dugaan  yang bersifat negatif.

                Menurut Ketua Badan Permusywaratan Desa (BPD) Jojo Kecamatan Mejobo, Anton : Seni karawitan memang semakin punah dan tidak digemari Pak. Sedang salah satu tokoh perempuan di  Kudus, Khariroh. “ Kurang sosialisasi. Seharusnya disosialisasikan”

                Lalu menurut : Kanzunudin, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univerisitas Muria Kudus (UMK), khususnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Kegiatan jangan berorientasi sekadar diadaka dan hanya untuk memenuhi laporan. Sudah tidak zamannya

                Selain itu juga  sudah tidak eranya hanya dengan istilah ketempatan.  Suatu kegiatan harus dipersiapkan dengan matang. Apalagi kaitannya dengan kebudayaan. Persiapan, yang meliputi tempat yang  menarik.. Panitia atau kru melibatkan kaum muda atau milenial. Undangan disebar ke kaum milenial dan masyarakat umum, terutama pejabat dan perangkat harus datang sebagai contoh” Jadi harus ada  kerja sama atau kolaborasi baik dinas, perangkat desa, kaum milenial. Sekarang eranya kolaborasi. .” tegas Kanzunudin- atau biasa disapa Udin    

Karawitan itu identik dengan gamelan : dan  gamelan terdiri dari : bonang barung, bonang, penerus, slenthem, demung, saron, peking, gender barung, gender, penerus, gambang, kempul/ gong, kenong dan kendang. Sering ditambah suling dan rebab-siter.

Pada zaman Syailendra sudah dikenal gamelan slendro dalam satu oktaf dibagi 5 nada, yaitu : 1, 2, 3, 5, 6. Lalu pada era Majapahit, seni karawitan telah berkembang lebih baik-lengkap. Gamelan berlaras Slendro dikembangkan dengan  laras Pelog, yang dalam satu oktaf dibagi 7 nada, yaitu : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Kemudian pada jaman Mataram dua jenis gamelan Pelog dan Slendro, disatukan menjadi satu satuan musik yang saling berkaitan dan saling melengkapi.

Gamelan tidak hanya untuk mengiringi pagelaran wayang kulit –wayang orang- ketoprak, tapi juga untuk perhelatan lainnya. Pengrawit (penabuh gamelan) dan waranggono-pesindhen juga dituntut untuk menguasai bidang lain. Misalnya campursari.

Seni karawitan dapat menghasilkan emosi positif seperti rasa senang dan rasa nyaman. Mengingat irama yang dihasilkan memberikan rasa nyaman baik kepada pemain ataupun pendengar. Irama yang dilantunkan dari setiap alat gamelan sangat halus dan menunjukkan keselarasan. Ini sesuai dengan budaya Jawa yang mengedepankan keharmonisan, selaras, dan kesabaran dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kecintaan terhadap kesenian karawitan dapat tumbuh dan  dapat digalakkan mulai dari diri sendiri. Karawitan yang tergolong salah satu kesenian tradisional yang ada di Indonesia dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada bangsa dan tanah air. Perlu dilestarikan serta dikembangkan .(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button