Bebas

Kontroversial Taman Menara

Kudus, Dupanews.id – Revitalisasi Taman Menara telah diprogramkan tahun 2022 ini dengan anggaran Rp 800 juta. Tapi sampai dengan Rabu (21/9/2022) pihak Pemerintahan kabupaten (Pemkab)- dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sebagai pengelolanya belum “beraksi”.

Terutama menyangkut rancang bangunnya seperti  apa. Mengingat pembangunan Taman Menara tahun 2016 dengan biaya sekitar Rp 3 miliar, memunculkan kontroversial. Antara lain menyangkut nama taman dan fungsinya. Sebagai pangkalan ojek, pedagang kaki lima dan cagar budaya

Dan salah bukti belum adanya aksi dari Disbudpar Kudus, ditandai  pemerintahan kelurahan Kerjasan belum pernah dihubungi . Padahal kawasan Taman Menara ini bagian dari wilayah Kerjasan. Sejak dulu sampai sekarang, jika menyangkut Taman Menara, kami tidak/belum pernah diajak rembugan. Atau paling tidak info yang “ringan ringan””ujar Kepala Kelurahan Kerjasan Edi.

Konon dana Rp 800 juta itu berasal dari dana perubahan APBD Kudus 2022. Selain untuk pembangunan phisik,  sebagian dana tersebut ( sekitar Rp 80 juta) juga untuk kegiatan non phisik yang menyasar kepada pelaku wisata.

Dana tersebut memang tidak sebanding dengan dana yang dikucurkan pada pembangunan Taman Menara  sebesar Rp 3 miliar (APBD Kudus 2016- itu pun muspro), tetapi yang terpenting sasaran revitalisasi itu untuk apa dan siapa.

pengojek bersantai di bawah rimbunnya pohon beringin di Taman Menara Foto Sup
pengojek bersantai di bawah rimbunnya pohon beringin di Taman Menara Foto Sup

Pembangunan Taman Menara (saat itu) menurut pemerhati sejarah dan budaya, penulis sejumlah buku serta Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN ) Kudus, Moh Rosyid  terkesan fokus pada orientasi ekonomi dan kurang “‘nguri-uri situs bersejarah” Sebab posisi bangunan Masjid Madureksan semakin terisolir.

Padahal Masjid Madureksan dibangun lebih dahulu dibandingkan dengan Masjid Menara Kudus. Idealnya  bangunan Taman Menara menampakkan postur bangunan Masjid Madureksan yang memiliki sumbu lurus dengan Kelenteng Hok Ling Bio. Ketiganya telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Registrasi Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya . Peraturan ini diterbitkan sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

PP ini memberikan kewenangan kepada pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam mengelola cagar budaya sehingga dapat tercapai sistem manajerial perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik berkaitan dengan pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber daya budaya bagi kepentingan yang luas.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata , pengelola baru Taman Menara (Foto Sup)
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata , pengelola baru Taman Menara (Foto Sup)

Masjid Madureksan

 Masjid Madureksan terletak hanya beberapa meter dari arah pojok selatan komplek Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Terkepung lebih dari 80 kios yang berada dalam komplek Taman Menara.

Menurut Ketua  Lembaga  Penjaga dan Penyelamat  Karya Budaya Bangsa (LPPKBB) Kabupaten Kudus, Sancaka Dwi Supani, nama Madureksan atau Padureksan, muncul kali pertama ketika Sunan Kudus dan Kiai Telingsing memimpin pertemuan antar kiai dan muncul  perdebatan sengit  sehingga melenceng menjadi “debat kusir”. “uwis ora susah pada padu, kabeh kudu bisa ngreksa dhewe-dhewe” tutur Kiai Telingsing saat itu.. Dari kata padu dan ngreksa akhirnya muncul nama Madureksan..” ujarnya.

 Masjid Madureksan yang memiliki luas pekarangan (termasuk bangunannya)  dengan panjang 17 meter, lebar 13 meter, dan dibangun sekitar tahun 1520 Masehi . Atau lebih “tua” dibanding Masjid Menara yang dibangun Sunan Kudus pada 1549 Masehi. Juga telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Melalui surat Keputusan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, nomor 11-19/Kud/15/TB/04. tahun 2005..

Selain itu menurut Supani, sebelum direnovasi Masjid Madureksan tergolong  “nyleneh”, karena ukurannya relatif kecil dibanding dengan masjid pada umumnya. Lagi pula bangunannya juga tergolong pendek, sehingga saat  umat hendak masuk ke dalam harus jongkok lebih dahulu. “Oleh karena  “tenggelam “  sekitar 70 centimeter, maka  pihak pengurus masjid memutuskan untuk dipugar  per 6 Juli 1989.

Sesepuh dan juga mantan Kepala Desa Kerjasan, Rahmat Hidayat menambahkan,  sebelum dipugar Masjid Madureksan ini sempat menjadi “sarang “ bebek. Khususnya saat musim hujan, karena masjid ini dipenuhi banyak air ( bagai kolam air). Yang masih asli adalah atap bagian atas. Tidak ada yang berani” ngulik-ulik”. Sempat ada yang meninggal.” tuturnya.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button