KudusWisata Religi

Nyekar Sambil Wisata di “Cungkup” Eyang Modo

Kudus, Dupanews.id – Nyekar- menabur-meletakkan bunga  di cungkup eyang Patih Gajah Mada/eyang buyut Modo , sungguh luar biasa. Betapa tidak . Gajah Mada dikenal sebagai panglima perang dan mahapatih kerajaan Mojopahit. Lalu sebagai pencetus Sumpah Palapa dan prasasti Gajah Mada pada tahun 1351 yang  saat ini tersimpan di Museum Gajah di Jakarta . Serta masih banyak lagi cerita dan sejarah Gajah Mada yang wafat pada tahun 1364.

Cungkup eyang Modo ini terletak di Dukuh Semliro Desa Rahtawu Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Di bawah cungkup terlihat pemakaman umum . Untuk mencapai lokasi ditempuh dari depan Kantor-Balai Desa Rahtawu. Dengan naik mobil, atau motor selama sekitar  20  menit. Jalannya menanjak dan diselingi banyak tikungan tajam.

Dari lokasi inilah rute paling dekat bagi peziarah, pengunjung untuk menuju Puncak Sanga Likur ( P29). Di puncak inilah dijumpai sejumlah batu dalam tembok keliling setinggi sekitar setengah meter. Sebagian perjalanan ( sampai hutan lindung Bunton) bisa numpang ojek. Dan selanjutnya masih ditempuh dengan jalan kaki. Lokasi ini juga tapal batas antara Desa Rahtawu dengan Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara.

Di cungkup eyang Modo, belum terlihat adanya tempat parkir. Namun sejumlah warga telah menyediakan tempat penitipan mobil dan motor. Khusus untuk pemotor bisa langsung parkir di samping kiri maupun halaman depan cungkup. Meski harus melewat jalan setapak.

Di bagian depan ada  regol  dan di mukanya  ada sebuah warung, serta  lahan kecil ( hanya beberapa meter persegi) dan sebuah “kursi panjang” dari bahan bamboo.

Dari halaman dan depan regol tersebut, sebatas mata memandang terlihat sejumlah bukit bukit dari Gunung Rahtawu yang berketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga : Wisata Waduk Kedung Ombo Belum Maksimal

Suasana menjelang sore, ketika Dupanews berkunjung ke sana pekan lalu, cuaca kebetulan lumayan cerah. Kebetulan pula sudah memasuki musim penghujan, sehingga tidak nampak adanya kegersangan. Nyaris semuanya serba hijau. Di kejauhan nampak perumahan warga dengan jalan beton yang nampak kontras dengan suasana sekelilingnya, sehingga cukup  menambah keindahan panorama.

Sebelum memasuki cungkup, bangunan ini mirip dengan bangunan Masjid Agung Demak. Jika arsitektur bangunan  Masjid Demak “ bersap”( berudak) tiga, maka bangunan  di Eyang Modo ini hanya dua.

Keduanya menunjukkan akulturasi budaya lokal Jawa, Hindu-Budha, dan Islam : Atap tumpang mirip punden berundak, menunjukkan hasil budaya lokal prasejarah di Indonesia. Atap tumpang ganjil, sama dengan tingkat bangunan pura Hindu berjumlah 3-11 tingkat.

Selain itu, bentuk meru segitiga sebagai lambang persemayaman dewa dalam kepercayaan Hindu. Budaya Islam dilihat dari fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam . Patih Gajah Mada sendiri menganut  agama Saiwa  atau Siwa Budha.

Lalu ketika memasuki cungkup yang lebarnya sekitar 10 meter dengan panjang sekitar 30 meter ini, berupa ruang terbuka atau ruang tamu. Berlantai  keramik warna kecoklatan. Berdinding tembok bercat kuning dengan jendela kayu di kanan kiri,

Lalu terlihat  empat tiang kayu jati sebagai soko guru. Persis di bagian tengah, disekat dengan sebuuah pintu kayu berukir.  Di sebelah kanan pintu terlihat tulisan  Petilasan Eyang Patih Gajah Mada/ Eyang Buyut Modo . Di bagian atasnya terlihat ornament ukir berupa mirip dua ekor ular , namun  bentuk kepalanya berbeda.

Kemudian di bagian samping kiri pintu, nampak juga tulisan Romo Soeprapto Topeng Mas/ Begawan Mintorogo Sidik Pramono Jati. Di bagian atasnya juga nampak ornament ukir.

Sedang di atas pintu  terpasang lambang Garuda Pancasila dan diatasnya lagi ( tepi tembok ke liling dicat warna merah putih- lambang bendera pusaka Indonesia.

Setelah melewati pintu utama, kemudian masuk ke dalam  yang disekat dengan “ tembok “ kayu berukir- mirip dengan penyekat rumah adat Kudus. Di bagian pojok kana n ada sebuah papan nama “ tata tertib” tamu/ pengunjung , yang nampaknya masih bersifat sementara ( letaknya).

Baca Juga : Wisata Religi Masin

Setelah itu masuk ke  ruang utama cungkup. di sini juga terdapat empat tiang utama dari kayu jati. Di atas lantai terlihat dua benda semacam nisan dari bahan keramik warna kehitaman.  Di bagian tengah masing masing “nisan” dipenuhi aneka jenis bunga. Khususnya  bunga mawar warna merah putih. Seuntai bunga sedap malam. Lalu terlihat pula sebuah /sebutir kelapa hijau yang bagian atasnya sudah dipangkas, Lalu ada sebuah bokor kecil tempat lilin , dupa atau kemenyan.

Lalu di dinding bagian belakang terlihat dua lukisan. Di bagian kanan lukisan Patih Gajah Mada dan di bagian kiri lukisan Romo SoepraptoTopeng  Mas/ Begawan Mintorogo  Sidik Pramono Jati. Di bagian depan lukisan terlihat sepasang bendera merah putih yang ditancapkan dalam tempat khusus.  Sedang seluruh tembok keliling  tertutup kain warna merah putih. Lalu di bagian tengah, terlihat sebuah payung warna hitam ukuran besar. Aneka bunga yang berada di ruangan ini memunculkan aroma wangi lembut.

Kemudian di belakangnya masih ada satu ruangan yang juga terdapat sebuah makam Ibu Sulastri- isteri romo Soeprapto Topeng Mas. Di atas nisan terdapat sebuah foto/lukisan ukuran besar.  Dan di seputar nisan juga banyak dijumpai aneka jenis bunga, sebutir kelapa hijau dan sebuah bokor kecil. Lalu  di atas nisan terlihat payung warna keemasan bermahkota tiga. Ruangan ini juga “diselimuti” kain warna merah putih, serta terendus bau harum wangi lembut.

Menurut sang jurukunci  yang akrap disebut Kang/Mas Gendon, komplek cungkup tersebut dibangun secara bertahap sejak enam tahun terakhir. Dan menurut rencana masih terus dilakukan berbagai pembenahan . Sedang peresmiannya djadwalkan pada pertengahan tahun 2022.  “ Sebagian besar peziarah yang rutin ke sini dari kerabat kraton Surakarta. Sedang yang menyangkut sejarah ketiga beliau (Patih Gajah Mada, Romo Soeprapto Topeng Mas dan Ibu Sulastri) saya belum bisa menjawab. Akan saya koordinasikan dulu dengan pihak yang berkompenten.” Tuturnya.

Baca Juga : Terminal Wisata Bakalan Krapyak Dikotori Sampah

Menurut laporan hasil penelitian Arkeologi di Pegunungan Muria Jawa Tengah tahun 1988, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi  Nasional Balai Arkeologi Yogyakarta : di Desa Rahtawu banyak ditemukan  petilasan yang dikeramatkan.

Pengkeramatan petilasan yang berbentuk timbunan batu yang disertai  penyebutan  sesuai  nama tokoh tokoh  tua/nenek moyang, dapat diklasifikasikan  sebagai tradisi megalitik.

Tokoh tersebut umumnya tokoh dalam pewayangan. Tercatat ada 16 tempat/tokoh. Namun separo diantaranya tidak sempat diamati tim peneliti yang terdiri dari : Diman Suryanto ( ketua tim), Goenadi Nitihaminoto , Suwarno, Ngadimin ( masing masing sebagai anggota) dan Rachmat Soesilo dari  bidang Muskala  Kanwi Depdikbud Provinsi Jawa Tengah.

 Penelitian berlangsung (untuk kali pertama) 18-27 Juli 1988. Adapun 16 peninggalan megalitik tersebut terdiri : Bambang Sakri, Junggring Saloka ( berupa onggokan batu), Manumoyoso (timbunan batu berukuran 100 x 150 centimeter), Pandudewanoto ( timbunan batu berukuran 100 x 150 centimeter), Sela Setangkep (batu monolit sebanyak dua buah), Sang Hyanh Wenang ( timbunan batu), Klampis Ireng ( kelompok batu), (ini yang sudah diamati ). Selebihnya yang belum  : Abiyoso, Sanggar Pamujan, Sanggar Pamulangan, Sanggar Jamurdipo, Sanggar Sapujagat, Batara Wisnu, Polosoro, Sekutrem dan Mbah/Eyang Modo.(Sup)                          

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button