Bencana

Ancaman Besar Kian Mendekat

Selain erupsi dan tsunami, Pasifik Selatan berada dalam bahaya karena dampak pemanasan global. Ada sejumlah indikasi, bahaya itu telah di depan mata. Beberapa negara di Pasifik telah merasakan dampaknya.

Frekuensi siang hari yang panas dan malam yang panas telah meningkat di seluruh Pasifik. Saat ini suhu Tonga dilaporkan meningkat, dengan suhu rata-rata harian 0,6 de-rajat celsius lebih tinggi dari pada tahun 1979.

Di Tonga,pada Januari 2020, suhu permukaan lautnya juga pernah tercatat 6 derajat celsius lebih tinggi dibandingkan suhu rata-rata di bulan tersebut.

Dalam catatan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim PBB, pemanasan yang terus berlanjut itu kemungkinan akan membuat tanah lebih kering karena suhu tinggi menyebabkan lebih banyak penguapan dan memengaruhi pola curah hujan regional.

Berdasarkan laporan lembaga tersebut, sejumlah negara di kawasan itu kemungkinan akan mengalami lebih banyak gelombang panas dalam beberapa dekade mendatang. Dengan suhu yang sering kali menembus 35 derajat celsius.

Panas yang ekstrem itu bisa sangat berbahaya apabila dikombinasikan dengan kelembapan tropis.Oleh karena itu, apabila pemanasan global tidak dicegah,dan ketinggian permukaan laut terus meningkat, pada satu masa, situasi ini akan mengakibatkan terjadinya migrasi akibat perubahan iklim.

Selain itu, kenaikan suhu air laut juga membuat terumbu karang ter-ancam punah.Dampak berantainya ialah berkurangnya biota laut, termasuk ikan dan berbagai makhluk laut yang dikonsumsi manusia.

Bencana kelaparan mengancam tidak hanya negara-negara Pasifik, tetapi negara-negara lain yang sumber pangannya berasal dari laut,termasuk Indonesia dan Jepang.

Sayangnya, tindakan untuk mencegah terjadinya bencana itu kurang maksimal. Misalnya, di Konferensi Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim di Glasgow, Skotlandia, pada November 2021 lalu yang dikenal dengan istilah COP 26.

Ada banyak harapan, tetapi minim yang terwujud. Masih susah bagi dunia untuk benar-benar menghentikan laju perubahan iklim.Kebutuhan pembangunan ekonomi, apalagi di negara-negara miskin dan berkembang,terpaksa harus diutamakan dibandingkan dengan menurunkan emisi.

Negara-negara berkembang tidak bisa menurunkan emisi sebelum tahun 2030. Pandemi Covid-19 telak memukul perekonomian. Apabila ekonomi dan energi beralih ke sektor terbarukan, pemerintah menganggap biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi,sementara capaian ekonomi-nya tidak banyak. Mau tidak mau, negara-negara kepulauan kecil seperti di Pasifik ini harus pasrah.”Wilayah kami (negara-negara Pasifik) benar-benar terancam bukan hanya sebagian,tapi ada yang keseluruhannya bisa terendam air laut. Sebuah bangsa beserta kebudayaannya akan lenyap,” kata Duta Besar Fiji untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Satyendra Prasad dalam COP 26.

Berdasarkan sistem pemantauan kenaikan permukaan air laut oleh PBB, negara-negara Pasifik akan kehilangan 30-70persen ekonomi berbasis daratan jika suhu Bumi naik 1,5 derajat celsius dalam empat tahun ke depan.

Secara umum,permukaan air laut global naik setinggi 3 mili meter per tahun.Khusus di Pasifik, kenaikannya bisa 4-6 milimeter per tahun.Penduduknya akan terpaksa berpindah ke negara lain.

Banjir dan rob.

Selain permukaan naik dan mengakibatkan air rob, memanasnya laut akan membuat udara hangat yang memicu pembentukan angin topan.Walhasil, badai dan banjir akan makin banyak terjadi.

Di Tonga saja, sejak tahun 2018 sudah dua kali dihantam badai topan kategori lima. Ini adalah angin dengan kecepatan mencapai 280 kilometer per jam.

Angin ini dikategorikan sangat berbahaya dan merusak.Tetangga-tetangganya, yaitu Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, dan Negara Fe-derasi Mikronesia, di akhir tahun 2021 terkena rob serta banjir parah.

Demikian pula di beberapa wilayah di Vanuatu.”Hampir di semua tempat, termasuk di ibu kota Majuro, air laut masuk ke permukiman,”kata Presiden Mikronesia David Panuelo.

Peneliti perubahan iklim dari Universitas Auckland, Selandia Baru, Murray Ford, menjelaskan, di tahun 1990-an, hujan deras akibat badai maupun La Nina sekalipun tidak ada pengaruhnya di negara-negara Kepulauan Pasifik. Akan tetapi,dalam dua dekade, hal tersebut berubah.

Pulau-pulau tersebut terancam tenggelam dalam kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya.Penduduk Kepulauan Pasifik diprakirakan akan menjadi salah satu kelompok rentan yang bakal menjadi pengungsi iklim global. ”Mungkin padaa khirnya akan seperti itu. Tapi saya harap tidak,” kata Josephine Latu-Sanft, warga Tonga yang sekarang tinggal di London dan bekerja sebagai komunikator iklim. ”Orang-orang tidak mau pindah.” Ia menegaskan, orang Tonga memilih untuk tetap tinggal di negaranya meskipun risiko yang mereka hadapi berat.Warga Tonga berhasil membangun kembali komunitas mereka setelah porak poranda dihantam topan Gita pada ta-hun 2018 dan topan Harold pada tahun 2020. ”Orang Tonga sangat tangguh,” ujar Latu-Sanft. ”Kami telah tinggal di sana selama berabad-abad.Akar dan identitas kami ada didarat dan di laut.”Akan tetapi, di sisi lain, ancaman perubahan iklim dan meningkatkan permukaan air laut tak bisa diabaikan. Danyang lebih mendesak adalah mencegahnya sedini mungkin.(AP/AFP/REUTERS/Kompas/Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button