Kudus

Sunarto Jurukunci Pasarean Sedo Mukti

Kudus, Dupanews.id- Menjadi jurukunci pasarean-makam nampaknya memang “ tidak sembarang orang” mau melakoni.Jika hanya dilihat dari sisi penghasilan yang tidak seberapa. Tidak bisa dijadikan “cageran” untuk mencukupi kebutuhan hidup selama sebulan. Dan biasanya “jabatan” jurukunci adalah “jabatan” turun temurun.

Misalnya Sunarto (61), jurukunci pasarean Sedo Mukti Desa Kaliputu Kecamatan Kota Kudus. “Saya menggantikan ayah saya dan saya merupakan jurukunci ke-10. Ketika saya menggantikan kedudukan ayah saya pada tahun  1991, saya masih aktif menjadi karyawan di salah satu pabrik rokok terkemuka di Kudus,” tuturnya saat berbincang santai dengan Dupanews.id di komplek pasarean Sedo Mukti.

Namun  karena atas permintaan ayahnya dan dia sendiri pernah diimpeni (bermimpi)terkait dengan pasarean Sedo Mukti, dengan iklas, lapang dada,senang hati dan tanpa keberatan apapun, Sunarto memilih menjadi jurukunci. Sekaligus keluar-undur diri dari perusahaan yang sebenarnya memberikan penghasilan yang lumayan cukup untuk menghidupi seorang isteri dan satu anak tunggalnya Ulin Nuha.

Saya memang diberi gaji-honor dari yayasan. Terus terang tidak besar- tidak bisa untuk mencukupi kehodupan kami. Tapi sejak awal saya memutuskan menjadi jurukunci karena panggilan hati-jiwa. Bukan  untuk mencari penghasilan. Saya yakin benar semua itu yang mengatur adalah Tuhan. Terbukti sampai sekarang saya masih mampu menghidupi keluarga. Meski melulu jadi jurukunci- tidak nyambi pekerjaan lain. Selain dari honor dari  yayasan, saya juga memperoleh “rejeki” melalui peziarah,” ujarnya dengan raut muka yang sumringah.

Dengan dibantu satu orang rekannya, Sunarto kesehariannya membersihkan- resik-resik komplek  pasarean. Melayani jika ada peziarah atau tamu yang berkunjung ke makam yang lokasinya sangat mudah dijangkau ini.Selama menjadi jurukunci sejak tahun 1991, saya belum pernah diimpeni-bermimpi, atau melihat sesuatu yang nyleneh hingga yang “medeni” ( menakutkan). Biasa saja.Makam ini tidak angker” jawab dia saat ditanya kegiatan kesehariannya dan dunia gaibs.

Sunarto, jurukunci foto Sup
Sunarto, jurukunci foto Sup

Sunarto pun semakin menggebu-gebu jika diajak berbicara tentang Sosrokartono. Tapi sebelumnya ia memberikan  sejumlah keterangan tentang komplek makam Sosrokartono. Antara lain di “tubuh” batu nisan- bagian samping kanan kiri- tertulis  beberapa kalimat dalam bahasa Jawa.

Antara lain : Sugih tanpa banda.(kaya tanpa harta). Digdoyo tanpa aji ( perkasa tanpa pusaka/ajian). Nglurug tanpa bala (maju perang tanpa pasukan) dan menang tanpa ngasorake ( menang tanpa merendahkan orang lain).

Kemudian : trimah markuwi pasrah.Suwung pamrih tebih ajrih. Langgeng tan ana susah tan ana bungah. Anteng mantheng sugeng jeneng.Terima pasrah. Sepi dari niat jelek jauh dari takut. Kekal tanpa ada susah dan gembira dan fokus mandiri untuk sebuah “nama”.               

Dari sekian banyak tentang ajaran Sosrokartono serta  sosok dan  kiprahnya tersebut, Sunarto semakin lama semakin mengerti-paham dan sekaligus sangat kagum terhadap kakak kandung Raden Ajeng Kartini..Saya hanya sebagai jurukunci. Namun demikian saya merasa bangga  turut aktif nguri nguri budaya- budaya Jawa khususnya lewat pengabdian di pasarean Sedo Mukti” ujarnya sembari resik resik di makam Sosrokartono.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button