Bebas

Keris Nagakumala Buatan Tahun 496 Masehi, Bermata Ratnakumala

Kudus, Dupanews.id – Sebilah keris yang bernama Nagakumala, berpermata Ratnakumala, buatan Empu Janggito, milik Prabu Watugunung  dari Kerajn Gilingwesi tahun 496 Masehi, sampai saat ini masih utuh di tangan YS Handoko (71) warga Kota Kudus.

Handoko menerima warisan keris tersebut dari ayahnya yang akrab dipanggil Pak T. Nama sebenarnya Tee Song Liang kemudian diganti menjadi Tejo Sulyanto. Ia meninggal pada 7 Oktober 2002 dalam usia 76 tahun. Dan keturunan ke-18 dari Kiai Ageng Tee Ling Sing- guru Sunan Kudus. “Ini salah satu diantara sejumlah peninggalan bapak saya, yang termasuk sangat langka dan bersejarah,” ujar Handoko yang ditemui Bemo,di rumahnya Kelurahan Wergu Kulon Kota Kudus, Senin (23/1/2023).2).

Selain mewariskan sejumlah tosan aji,  Pak T juga meninggalkan puluhan kamera dengan lensa aneka uuran, lengkap dengan asesorisnya. Sempat menjadi fotografer, wartawan serta menulis buku tentang 25-26 kelenteng di Indonesia.

Keris itu sendiri di bagian pangkal ( tempat pegangan, dikelilingi banyak mutiara berbagai warna. Saat terkena cahaya dari lampu kamera, memantulkan cahaya warna warni. Saya selalu merawat sesuai pesan tertulis almarhum bapak saya yang tertempel di warangka/sarung keris. Antara lain hari baik untuk tosan aji pada Selasa dan Kamis dengan pasaran pahing dan pon. Sedang hari pantangan Senin Legi, bertepatan meninggalnya empu Pangeran Sendang. Rabu Kliwon (empu pangeran Sedayu), Sabtu Wage ( empu pangeran Welang) dan Minggu Wage ( empu pangeran Cinde Anom).Sedang khasiat keris Nagakumala tersebut menyangku kemakmuran,kesejahteraan serta kewibawaan,” tambah Handoko.

Kerajaan Gilingwesi.-

Menurut website Desa Ngujung Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoto Jawa Timur, Kerajan Giling Wesi (nama raja sampai saat ini belum diketahui pasti) adalah salah satu kerajaan kecil yang rakyatnya hidup makmur.Terdiri dari beberapa kademangan, diantaranya kademangan tersebut adalah Kademangan Klumpit dengan nama Demangnya Ki Ageng Langkir (Ki Angkir), dan Kademangan Karang Geneng.

Keberadaan Kerajaan Gilingwesi semula berada sebelah barat Desa Ngujungyang ditandai  banyaknya pecahan atap genting, bata merah dan bekas kuburan ala hindu dan budha yang banyak ditemukan montenya (biji kalung dari keramik tanah liat) tepatnya didaerah persawahan-sawah kenongo .Serta sendang Giling (sekarang menjadi wilayah Desa Jono Kecamatan Temayang).

Sedang bekas , pusat,kerajaan sekarang berada di sebelah utara kuburan/makam utama Desa Ngujung. Ditandai dengan adanya pondasi yang dibuat dari bata putih (watu kumbung).Masyarakat menyebut bekas kademangan Boto Putih.

Lalu makam utama Desa Ngujung dulunya adalah makam keluarga punggawa kerajaan. Sedangkan kuburan/makam Watu Gede dulunya adalah makam rakyat kerajaan Giling Wesi. Untuk Balai Pusaka dan gedung harta kekayaan terletak di sebelah barat kuburan/makam utama Desa Ngujung dengan ditandai  banyaknya misteri pusaka dan harta kekayaan yang berupa Golek Kencono (patung dari emas) yang konon hanya bisa dilihat  orang-orang tertentu

Prabu Watugunung

                Watugunung anak raja Kundadwipa yang bernama Dang Hyang Kulagiri dan ibunya bernama Dewi Sintakasih. Kisahnya berawal dari Sang Raja Dang Hyang Kulagiri yang berpamitan kepada kedua istrinya, Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia, untuk bertapa di Gunung Semeru.

Saat itu Dewi Sintakasih dalam kondisi hamil dan ketika sang suami tidak kunjung pulang ke kerajaan Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia memutuskan mencari suaminya ke gunung Sumeru. Setibanya di lereng gunung mendadak perut Dewi Sintakasih sakit. Lalu merebahkan diri di atas batu yang datar dan lebar.

Beberapa saat kemudian ternyata ia melahirkan seorang bayi laki laki. Anehnya kelahiran tersebut.ditandai dengan pecahnya batu tersebut.Juga kehadiran Ida Hyang Padmayoni dan Dewa Brahma yang kemudian memberi nama bayi itu I Watugunung, karena lahir di atas batu.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button