BebasKudus

Masa Panen Durian di Kudus Mundur, Produksinya Menurun

Kudus, Dupanews- Menjelang pertengahan Januari 2023, buah durian mulai banyak dijajakan di lokasi lokasi strategis di wilayah Kabupaten Kudus. Di dalam kota, lima orang pedagang durian menjajakan dagangannya di seputar Jalan Diponogoro. Lalu terlihat pula di seputar depan lapangan sepakbola Getas Pejaten, tepi jalan Tanjungkarang- Undaan, kios-toko buah-buahan dan sebagainya.

        Namun di Desa Margorejo Kecamatan Dawe, yang telah ditetapkan sebagai sentra buah-buahan di Kabupaten Kudus. Khususnya di tepi jalan pedukuhan  Pelang tergolong sepi. Berdasarkan pantauan Dupanews, pada Minggu (22/1/2023) hanya ada sekitar 10 warga setempat yang menggelar dagangannya.

        Biasanya setiap tahun Desa Margorejo  menyelenggarakan Gebyar Ngunduh Duren. Sempat terhenti saat terjadi pageblug Covid-19. Dan baru digelar lagi pada Minggu 12 Desember 2021. Namun pada tahun 2022 tidak ada lagi kegiatan serupa. Sekitar setahun lalu Pemkab Kudus- dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan , memberikan bantuan seribu bibit durian unggul Musang King

        Diharapkan pada tiga-lima tahun mendatang populasi tanaman dan hasil produksi bertambah banyak. Sehingga  penetapan sebagai sentra buah-buahan ( utamanya durian dan rambutan) – sekaligus sebagai desa wisata tidak sia-sia.

        Diduga akibat tingginya curah hujan pada menjelang akhir tahun 2022 hingga awal 2023, menjadikan proses pembuahan gagal. Munculnya bunga tidak bisa berlanjut menjadi buah. Ketika buah mulai nnampak menyembul, ternyata banyak rontok.

        Durian adalah nama tumbuhan tropis Asia Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan tajam sehingga menyerupai duri. Tumbuhan durian bukanlah spesies tunggal, tetapi sekelompok tumbuhan dari marga Durio ( Durio zibethinus).Tergolong buah exsotik- ketika matang mengeluarkan bauk  menyengat- keras karena kandungan senyawa belerangnya (sulfuric smell).
Daging buah atau arinya mengandung senyawa karbohidrat atau fosfor dan asam
askorbat

Berdasarkan data yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah per Senin (23/1/2023, hasil dari pembaruan data per 15 Maret 2022),  produksi durian di Kota Kretek selama tahun 2021, hanya 3.501 kuintal. Menurun dibanding tahun 2020 yang mencapai 3.767 kuintal.

        Sedang sebagai penghasil durian terbanyak di tingkat Provinsi Jawa Tengah tercatat Kabupaten Semarang yang berjumlah 213.700 kuintal . Ini meningkat dibanding tahun 2020 sebanyak 101.749 kuital.

        Kabupaten Jepara sebagai tetangga Kabupaten Kudus, hasil produksi duriannya juga sekitar 21 kali lebih banyak dibanding dengan Kota Kretek. Yaitu mencapai 93.456  kuintal. Juga meningkat cukup signifikan dibanding tahun 2020 yang “hanya” 66.115 kuintal.

        Namun untuk jenis buah-buahan jeruk pamelo atau jeruk besar, masih berada diurutan empat  besar tingkat Provinsi. Setelah  Pati yang mencapai 292.305 kuintal, disusul Wonogiri 31.771 kuintal, Banjarnegara 28.789 kuintal dan Kudus  18.730 kuintal.(Sup)             

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button