Kudus

Wargono ,Sesepuh “Saminisme” Meninggal

Kudus, Dupanews.id – Wargono- salah satu tokoh sepuh Saminisme  Jumat siang ( 25/2/2022) pukul 15.00 salin sandhangan– bahasa komunitas Samin yang artinya meninggal dunia. Dan Sabtu (26/2/2022) dimakamkan  di ruang tamu rumahnya Dukuh Kaliyoso Desa Karangrowo Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus.

Sedang sesepuh Samin atau juga dikenal dengan Sedulur Sikep, MbahTarno (Mbah No) lebih dahulu meninggal di rumahnya Dukuh Mbombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati  24 Juni 2009 dalam usia 100 tahun.

Cukup banyak warga setempat maupun warga Sedulur Sikep dari Blora, Pati yang menghadiri pemakaman mbah Wargono. Termasuk Camat Undaan, perangkat desa setempat. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Anggota DPR RI mantan Bupati Kudus Musthofa dan sejumlah pejabat lainnya mengirimkan karangan bunga.

Mbah Wargono meninggal karena usia sepuh dan meninggalkan enam anak, 16 cucu dan lima buyut. Dua diantaranya anaknya, Gunretno dan Gunarti, tokoh Sedulur Sikep,

Dupanews,  terakhir kalinya bertemu dengan Mbah Margono pada Selasa siang (5/8/2014) di rumahnya yang bersih dan asri.

Wargono beserta seluruh keluarga besarnya, tetap akan mempertahankan  pola kehidupannya yang berdasarkan ajaran Samin Surontiko Antara lain tidak akan menyekolahkan keturunannya (anak-anaknya) pada pendidikan formal dan satu-satunya sumber penghidupan dari bidang pertanian. “Ajaran yang kami peroleh dari orang tua kami ternyata cukup baik ketika ditrapkan dalam kehidupan sehari-hari, Jadi sampai kapan pun, ajaran itu tetap kami ugemi,” tegasnya saat itu.

Samin Surontiko yang bernama asli Raden Kohar lahir di Ploso Kedhiren Randublatung (Blora) pada 1859 dan meninggal di pengasingan  kota Padang 1914.Ajarannya disebut Saminisme

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pengikut Samin Surontiko, di wilayah Sukolilo (Pati) dan Undaan (Kudus) mulai  meninggalkan ajaran Saminisme. Terutama dalam hal pendidikan dan agama. Sebagian diantara mereka mulai menyekolahkan anak dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sedang agama mereka yang selama ini dianutnya adalah agama Adam, namun  ada yang pindah ke agama lain.

Kondisi seperti itu bagai mencerai-beraikan ajaran dan adat istiadat mereka yang sudah ditekuni selepas era Samin Surontiko. “ Saya sebagai sesepuh tidak melarang. Itu hak mereka. Toh pada suatu saat nanti bakal ketemu- dalam pengertian ketemu hati nurani. Saya anggap mereka benar, begitu pula pihak kami,” tegas Wargono.

Meski tidak memiliki pendidikan formal, namun bukan berarti anak turunWargono tidak bisa membaca, menulis hingga pengetahuan umum lainnya. Enam anaknya belajar secara otodidak dan ternyata  mereka juga mampu “mengimbangi” kemampuan warga lain yang berpendidikan formal.           Begitu pula menyangkut bidang pertanian yang digeluti selama ini memang sebagian besar terbukti mampu menghidupi mereka. Selamat jalan mbah Wargono.(Sup).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button