Sosial

Didorong : Pengolahan Cabai Tidak Kalah “Pedasnya”

Jakarta, Dupanews.id – Sebagai salah satu komoditas strategis, masalah cabai bukan hanya persoalan di bagian produksi, tapi juga dalam kebiasaan mengkonsumsi. Konsumen cabai di Indonesia selama ini lebih memilih cabai segar ketimbang olahan. Padahal cabai olahan tidak kalah ‘pedas’-nya ketimbang cabai segar.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian saat ini mendorong pengembangan produk olahan cabai.

Baca Juga : Harga Sembako, Di Kudus Harga Cabai Rawit Merah Turun, Beras, Gula, Daging Stabil

Kasubdit/Koordinator Pengolahan Hasil Hortikultura, Ditjen Hortikultura, Diah Ismayaningrum mengatakan, untuk mengatasi gejolak harga cabai di tingkat produksi, pemerintah saat ini membuat program pengembangan kawasan komoditas, termasuk cabai.  

Di kawasan tersebut nantinya dari  mulai perbenihan, tata kelola produksi ramah lingkungan, hilirisasi bahan baku industri dan upaya mendukung ekspor. “Memang tantangan kita sekarang adalah aspek mutu produksi dan supply, aspek minim sentuhan teknologi dan masa simpan yang sangat terbatas,” katanya.

Karena itu, pemerintah mendorong upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing. Untuk peningkatan nilai tambah, pihaknya membuat grade cabai a, b dan c. Produk yang masuk dalam grede a dan b diarahkan untuk penjualan dalam bentuk segar. Sedangkan grade c didorong untuk masuk industri olahan.

“Kita sudah bekerjasama seperti dengan BB Mektan untuk membuat alat olahan dan packing.  Selain itu juga kerjasama dengan pemasaran untuk branding dan promosi dan informasi harga. Untuk ekspor kita kerjasama dengan Barantan,” tuturnya.

Baca Juga : Harga Cabai Selangit, Petani Tidak Tergiur

Bahkan ke depan Diah berharap, Indonesia bisa swasembada cabai olahan. Karena itu, untuk pelaku usaha yang ingin bergerak dalam olahan cabai, pemerintah siap memberian bantuan sarana dan alat sesuai dengan kebutuhan. “Jika perlunya untuk olahan cabai bubuk, kita bantu alatnya. Jadi alat yang kita berikan sesuai kebutuhan dan pasarnya,” katanya.

Bagaimana bisa mendapatkan bantuan sarana tersebut? Diah mengatakan, pelaku usaha atau petani bisa mengajukan melalui Dinas Pertanian di wilayahnya masing-masing. “Program bantuan alat ini untuk membantu saat harga cabai murah. Tiap tahun bantuan itu kami berikan dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.

Salah seorang pelaku usaha olahan cabai yang kini telah menikmati hasil adalah Endang Prihatin. Bahkan owner CV. Mak Endang Gemilang ini bukan hanya menyasar pasar dalam negeri, tapi juga mancanegara Timur Tengah. “Di Jedah, produk kami sudah diikutkan untuk menerima SFDA atau BPPOM-nya Arab Saudi. Insha Allah akan langsung dihubungkan buyer luar negri,” katanya.

Bahkan untuk pasar dalam negeri, meski pandemi permintaan terus meningkat. Misalnya di Padang dan Pekanbaru. Di dua kota tersebut sudah ada agen yang ingin memasarkan produknya. “Kami siap bekerjasama untuk siapa aja yang ingin menjadi distributor produk cabai olahan kami,” ujarnya. (sumber Sintani/Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button