Budaya

Ulo-ulo Manding, Budaya Jawa Guna Mempererat Paseduluran saat Pernikahan

Dupanews.id – Masyarakat Jawa khususnya di pesisir pegunungan Muria, kental dengan adat istiadatnya. Banyak sekali budaya yang masih dilestarikan sampai sekarang. Tak hanya itu, budaya tersebut sudah dianggap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Salah satunya yakni budaya Ulo-ulo Manding. Budaya tersebut merupakan tradisi yang dilakukan saat digelarnya pesta pernikahan. Dengan syarat, anak yang dinikahkan adalah anak terakhir atau bungsu.

Baca Juga : Selametan Labuhan, Sebuah Ihtiyar Cegah Bala’ Ala Desa Bungu Jepara

Tradisi Ulo-ulo Manding sebagai simbol rasa syukur para orang tua karena sudah berakhirnya masa kewajiban terhadap anak. Selain itu, tradisi ini juga merekatkan antar sanak saudara.

Kata Ulo-ulo Manding sendiri berasal dari bahasa Arab aula-aula manda yang artinya awal mana dan dulu mana. Ada juga yang menyebut dari asal kata alaa-alaa yang berarti ingat-ingat. Masyarakat Jawa populer dengan nama Pak Ponjen yang artinya beruntung.

Baca Juga : Tedak Siten atau Tradisi Mudun Lemah Sudah Langka

Dalam menjalankan tradisi ini tergolong unik. Selain itu, masing-masing daerah memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menjalankan tradisi Pak Ponjen. Nama dan arti juga terkadang berbeda. Namun tujuannya sama yakni menjaga paseduluran.

Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu membaca basmalah dan hadloroh kepada Nabi, sahabat, para wali dan lain sebagainya yang dipimpin oleh sesepuh setempat atau Kiai. Lalu, berdoa bersama untuk menolak segala mara bahaya.

Proses selanjutnya yakni satu keluarga yang menikahkan, mulai dari orang tua, anak pertama sampai anak terakhir berbaris melingkar.

Di tengah lingkaran itu, sudah disediakan paso (gerabah) atau sejenis kendi yang di dalamnya ada ikan lele. Hal ini bertujuan sebagai bentuk sesama saudara harus saling melindungi, mendidik dan memberi nasehat (Paradigma, hal. 58). Tidak peduli mana yang tua dan muda, semuanya sama-sama saling belajar. Sementara ketika ada konflik, sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik.

Baca Juga : Tedak Siten atau Tradisi Mudun Lemah Sudah Langka

Selanjutnya, yakni keluarga tersebut mengitari kendi itu smabil membaca sholawat Nabi. Setelah putaran terakhir, kendi berada di tengah dipecahkan. Maksudnya ialah jika ada rizki harus bisa disedahkan. Upacara ini berakhir dengan melemparkan beras kuning dan uang receh kepada tamu yang hadir.

Namun tradisi ini bukanlah hal yang wajib. Ulo-ulo Manding sebagai bentuk orang Jawa dalam nguri-nguri budaya Jawa.

Pesan penting yang ada dalam tradisi ini yakni pentingnya menjaga keimanan, mempererat silaturahmi, saling tolong menolong.

(Lim)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button