Kudus

Ulama Besar KH Sya’roni Meninggal : Umur 14 hafal Al Qur’an

Kudus, Dupanews.id Ulama besar  asal Kudus, mustasyar PB NU Kiai Haji (KH) Sya’roni Achmad , meninggal di rumah sakit islam (RSI) Sunan Kudus, Selasa (27/4.2021) pukul 09.00 WIB dan telah dimakamkan di makam keluarga di Kelurahan Kajeksaan  RT 02/RW 01 Kecamatan Kota Kudus,

“Innalillahiwainnailaihirajiun, kita doakan Bp KH Sya’roni Ahmadi Husnul Khatimah. Alfatihah. Beliau kapundut pada hari ini, Selasa 27 April jam 09.00 di RSI Sunan Kudus,” tulis Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah.

 Sya’roni lahir  17 Agustus 1931  dari keluarga santri. Sejak kecil  dikenal sebagai anak yang gandrung mengkaji agama,/ Mmulai dari al-Qur’an sampai tauhid, fikih, tasawuf dan sebagainya. Meskipun berasal dari keluarga dari ekonomi pas-pasan, terbukti beliau rajin mengikuti ti pengajian-pengajian yang diadakan di kota Kudus dan sekitarnya.

Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia 11 tahun sudah hafal kitab Alfiya Ibnu Malik bahkan hafal al-Qur’an pada usianya yang ke-14. Ia  anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ditinggalkan ibundanya saat berusia 8 tahun. Pada usia ke 13 ayahnya juga meninggal.

Menikah dengan Afifah pada tahun 1962. dan dikaruniai dua anak laki laki dan enam anak perempuan.\Mereka adalah :  Hj. Juhiairoh Hj. Zulaifa  Hj. Zuhaida.  Hj. Zukhaila. Hj. zulahiriyah Noor. . Muh. Yusril Hana. H. Muh yusril Fallah dan Hj Manunal Akhna.

Peendidikan formalnya, di Madrasah Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid lama (pada masa KH. Muchit). Sedangkan  pendidikan non formalnya, belajar  dari satu tempat ke tempat lain.

Untuk belajar al-Qur’an (menghafal al-Qur’an) utamanya Qira’ah Sab’ah beliau berguru kepada KH. Arwani Amin Kudus yang mengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an. Juga sempat berguru kepada KH. Turmudzi, KH. Asnawi, KH. Turaichan Adjuri dan lain-lain.

Baca Juga : “Misteri “ Pasar Karangampel Kudus

Kyai Sya’roni banyak dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner, Ia tidak hanya mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga dalam ushul al-fiqh, fikih, mantiq, balaghah dan sebagainya.

Dalam hal al-Qur’an,  tidak hanya pandai membacanya namun juga pintar melagukannya bahkan beliau menjadi Dewan Musabaqah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) tingkat nasional.

Setelah sekian lama bergumul dengan ilmu dan pengajian-pengajian, Kyai Sya’roni akhirnya mulai berdakwah  di masyarakat.. Ia menggunakan dua model. Pertama  dakwah di Masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji; kedua adalah Pengajian Umum atau Tabligh Akbar.

Metode pertama ini biasanya dipakai dan dikonsumsi  masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan.

Sedang model kedua biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.

Dalam melakukan Dakwah Islamiyah, sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kyai Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Apalagi saat itu adalah masa-masa meruyaknya ideologi komunisme yang dilancarkan PKI.

Gaya ini selalu dipakai Kyai Sya’roni dalam berbagai kesempatan karena keadaan waktu itu mengandaikan demikian. Baik ketika khutbah maupun pengajian umum atau tabligh akbar beliau selalu tampil dengan mengambil hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat (waqi’iyyah). Konon, gaya seperti ini sering dipakai KH. Turaikhan dalam berdakwah.

Baca Juga : Doa Lintas Agama di Kudus Untuk Korban Covid-19 dan Kapal Selam Nanggala -402

Namun, sekitar periode 1980-an, Kyai Sya’roni mulai banting setir. Gaya dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada keras dirubah total dengan memakai gaya yang melunak.

Perubahan gaya dalam berdakwah ini dilakukan dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada pergeseran masyarakat dari waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat yang tiap saat berubah. Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka metode berdakwah pun mesti berubah.

Perjuangan Politik

Kyai Sya’roni pada zaman penjajahan Belanda sempat terlibat dalam perang-perang gerilya dalam rangka pengusiran Belanda dari muka bumi Indonesia. Tahun 1965 yakni masa pemberontakan PKI Kyai Sya’roni juga merupakan salah seorang yang menjadi target operasi yang dilakukan h PKI.

Hal ini karena Kyai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye dan membuat pengajian-pengajian. Kyai Sya’roni dengan tegas menolak ideologi komunisme PKI.

Dalam konteks kepartaian, pada tahun 1955-an Kyai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye untuk Partai NU. Sampai dengan tahun 1970-an  juga sering terlibat aktif dalam Partai NU sampai akhirnya NU mengambil keputusan kembali ke Khittah 1926 dalam Muktamar Situbondo tahun 1984.

Dan beliau merupakan orang NU yang mendukung kembali khittah NU 1926. Adapun pasca khittah NU Kyai Sya’roni juga sempat terlibat di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun beliau hanya bermain di belakang layar dan tidak berada di garis struktural kepartaian.

Langkah ini menjadikan Kyai Sya’roni mampu diterima semua kalangan. Hubungan dengan Pemerintah Daerah yang waktu itu didominasi oleh Golkar tetap terjaga dengan baik. Ditambah lagi dengan pembawaan beliau yang lunak dan halus. Baliau juga sangat menghindari kepentingan Partai dalam setiap pengajian yang dilakukan. Kegiatan kultural Kyai Sya’roni pun tetap berjalan dengan baik. Bahkan beliau menjadi sosok yang disegani, baik Pemerintah Daerah maupun kelompok-kelompok yang lain.

Baca Juga : Sertifikat Hak Pakai Pemkab Kudus Cacat Hukum Terjadi Patgulipat
Karya

Kyai Sya’roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, men-syarah dan men-terjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi oleh Madrasah-Madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah :

1 Faraid al-Saniyah :  banyak mengupas tentang doktrin ahlusunnah wal jama’ah.

2 Faidl al-Asany : Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas tentang Qira’ah al-Sab’iyyah.

3 Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir : mengupas tentang tafsir al-Qur’an mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H/

4 Tarjamah Tarsil al-Turuqat : Kitab ini membahas ilmu manthiq

5 Tarjamah al-Ashriyyah :  membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H

6 Qira’ah al-Ashriyyah : Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kyai Sya’roni, untuk memudahkan para santri atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning. Dan masih banyak lagi karya-karya Kyai Sya’roni yang belum tertulis disini atau belum dipublikasikan.\

Selain itu Kyai Sya’roni juga telah memberikan banyak hal.untuk warga Kudus  Misalnya . Pengajian rumahan atau di Masjid-masjid seperti di Masjid al-Aqsa Menara Kudus masih rutin dijalankan.

Dalam bidang pengembangan fisik,  banyak memberikan jasa dalam mengembangkan Madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasah Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq at-Thullab as-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Kradenan Kudus. Kyai Sya’roni juga tercatat sebagai Penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS Kudus, Mustasyar PCNU Kudus, Mustasyar PBNU Pusat, Penasehat Yayasan Arwaniyyah. Beliau juga mengisi Pengajian rutin tiap Ahad pagi di Masjid Jama’ah Haji Kudus (JHK) .(dikutip dari berbagai sumber /sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button