KudusSosial

Dua Pompa Air Desa Jati Wetan Loyo, Pemukiman Warga Masih Tergenang Air

Kudus, Dupanews – Dua pompa air yang berada di tepi tanggul kiri Sungai Wulan Desa Jati Wetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus loyo. Tidak mampu menjalankan fungsinya untuk menyedot air (banjir) dari sungai kecil setempat. Akibatnya lebih dari 10 tahun terakhir, setiap kali musim penghujan, pemukiman warga di seputar sungai kecil itu selalu tergenang banjir.

            Khusus untuk musim penghujan 2021, selama bulan Februari, sudah dua pekan lebih pemukiman warga masih tergenang  banjir. Pada posisi Sabtu (27/2/2021) pukul 16.WIB,  sebagian besar gang –gang (jalan kecil selebar 2 meteran) masih juga tergenang air. Begitu pula pekarangan hingga lantai rumah puluhan warga mengalami nasib yang sama. Sejumlah warga masih mengungsi di rumah saudara atau tetangga yang tidak tergenang dan beberapa orang dilarikan ke rumah sakit.

Stasiun pompa air yang kedua Desa Jati wetan Jati Kudus (Foto Sup)

Salah Perencanaan

            Berdasarkan data dan fakta yang ditemukan Dupanews : pompa air pertama ng terletak  hanya beberapa meter dari jembatan Tanggulangin . Dibangun pada tahun 2007 dengan biaya lebih dari Rp 76  juta, baru dioperasikan dua kali dan akhirnya dibiarkan mangkrak.

ujung sungai kecil Desa Jati wetan yang bermuara di Sungai Wulan dekat Jembatan Tanggul Angin Kudus (Foto Sup)

            Penyebabnya adalah “mulut” pembuangan air ke Sungai Wulan berada nyaris di tengah badan tanggul, sehingga jika debit sungai ini naik otomatis menutup “mulut” tersebut.

            Lalu dibangunlah pompa air yang kedua. Letaknya sekitar 50 meter timur  pompa air lama. Dibangun dan dioperasikan pada pertengahan Desember 2014.

            Menurut Kepala Dinas Bina Marga Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kudus, Samani Intakoris (saat itu dan sekarang menjabat Sekda Kudus), stasiun pompa  didesain mampu menyedot air (banjir) sebanyak 450 meter kubik per detik. “Kekuatan pompanya jauh lebih besar. Begitu pula konstruksi bangunan hingga ukuran pipa air. Bahkan pipa airnya tidak menggunakan pralon melainkan besi yang lebih tahan terhadap benturan Atau tidak mudah pecah atau bocor,” tegasnya

            Pipa besi itu panjangnya 16 meter. Dibagi dua menjadi 8 meter. Diletakkan sejajar dan bagian ujungnya dibuat “mulut” untuk membuang air. Lokasi mulut kurang lebih satu meter dari tepi atas tanggul sungai.

            Tetapi di bawah mulut pompa air ini tidak langsung ke permukaan Sungai Wulan, Melainkan sebagian besar tertutup lumpur yang menyatu pada lahan lambiran, Pompa ini pada posisi Sabtu (27/2/2021) tidak dioperasikan. Jika dioperasikan ( dihidupkan mesinnya) membutuhkan bahan bakar solar 20 liter per jam. Ironisnya beberapa kali terjadi kehabisan atau tidak tersedianya anggaran untuk pembelian solar.

Pompa BBWS

Pompa air BBWS Pemali Juwana lebih simpel dan tepat sasaran (Foto Sup)

            Mulai Minggu (21/2/2021) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana mengoperasikan  pompa air. Letaknya berdekatan dengan bangunan stasiun pompa air pertama.

            Pompa air BBWS Pemali Juwana ini mampu menyedot air hingga 600 meter kubik per detik. Bisa dioperasikan selama delapan jam , dengan waktu “istirahat” untuk pendinginan dan pengisian bahan bakar (solar).

            Menurut Sayid Yunanto (anggota DPRD Kudus) asal Desa Jati  Wetan dan Sugianto perangkat desa setempat, dengan dioperasikan pompa air BBWS Pemali Juwana ini hasilnya langsung terlihat  efektif dan signifikan.

            Menurut pengamatan Dupanews, yang menjadi pembeda antara pompa air yang dioperasikan BBWS Pemali Juwana dengan ESDM (sekarang menjadi Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang/PUPR) adalah :
            Pipa air  yang dioperasikan BBWS Pemali Juwana di bagian mulutnya diletakan di bawah jembatan Tanggul Angin, Atau di atas tanggul Sungai Wulan, sehingga air yang disedot dari sungai kecil di wilayah Desa Jati Wetan, mengalir tanpa hambatan. Pipa airnya juga dari bahan pralon dan ada pula sebagian yang disambung dengan bahan lain yang mudah dibongkar-pasang dan dilipat./

            Lalu kekuatan (daya) mesin yang semula hanya 450 liter per detik menjadi 600 liter per detik. . Dari data dan fakta  inilah yang seharusnya dijadikan salah satu acuan bagi Pemkab Kudus (Dinas PUPR) dan DPRD untuk membuat program baru yang jauh lebih akurat dalam banyak hal. (Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button