Budaya

Kerbau Bule Solo

Kudus, Dupanews.id – Kebanyakan orang Indonesia menyebut orang asing yang berkulit dan berambut  putih- terutama dari Eropa dan Amerika Serikat- orang bule. Semula disebut landa (londo).

Sedang di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan masyarakat kota Solo dan sekitarnya sudah sangat lama mengenal kerbau bule Kiai Slamet

Bagi sebagian warga Solo, kerbau milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini dianggap bukan sembarang kerbau karena memiliki unsur keramat dan bertuah. Keraton Surakarta pun menjadikan kebo bule sebagai salah satu pusakanya.

Mengutip dari buku Babad Sala karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kerbau bule adalah hewan kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwana II (lahir: Kartasura, 1711 – wafat: Surakarta, 1749) adalah raja terakhir Kasunanan Kartasura yang memerintah tahun 1726 – 1742 .

Sedang Sunan Kudus dalam abad ke-15 malah lebih dahulu juga telah menganjurkan kepada warga Kudus untuk tidak menyembelih sapi, melainkan kerbau. Sebagai salah satu upaya (saat itu) menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat penganut Hindu – Budha. Kemudian berkembang sebagai bentuk toleransi antar umat beragama.

Dampaknya masakan khas Kudus yang berbahan baku daging kerbau. Seperti, soto, pindang, sate dan sebagainya hingga sekarang masih tetap terkenal – melegenda. Begitu pula populasi ternak kerbau juga masih terbanyak di tingkat Provinsi Jawa Tengah- meski  dalam beberapa tahun merosot tajam.

Sedang kerbau bule di Kudus pun dapat ditemukan, tapi sangat jarang dan tidak dikeramatkan. Harganyapun tidak ada perbedaan dengan harga kerbau biasa. Namun untuk tingkat kelahiran kerbau bule, sangat jarang dibanding dengan kelahiran kerbau biasa.(Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button