KudusReligi

Ponpes Anak Berkebutuhan Khusus Al – Achsaniyyah

Kudus, Dupanews.id – Pondok pesantren (Ponpes) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Al – Achsaniyyah  (AA) yang didirikan tahun 2007 – konon hanya ada di Kudus saja. Tepatnya di Desa Pedawang  Kecamatan Bae.

Bisa  ditempuh melalui jalur jalan raya perempatan jalan Panjang – Universitas Muria Kudus (UMK) ( dari arah barat- ke timur).Depan seputar Oasis (Djarum) masuk ke selatan sekitar beberapa ratus meter.Atau melalui jalur jalan raya Desa Bacin- Desa Rendeng, pertigaan jalan kea rah timur, lalu sebelum jembatan belok ke kiri.

Nah di lahan yang sebagian besar masih berupa tanah kosong ini, nampak komplek Ponpes ABK AA, yang menempati lahan sekitar 4, 230 meter. Di dalamnya terdapat asrama putra dan putri, Masjid, ruang kelas, tempat bermain,  tempat aneka jenis burung hingga aneka jenis bunga yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana. Sedang di seberang ponpes, juga ada sebuah bangunan, yang antara lain untuk tempat  pakaian- berupa rak rak terbuka. Bahkan telah dipersiapkan sebidang tanah sewa dari pemerintahan desa  setempat untuk perluasan  ponpes ABK AA. Terletak samping kiri/utara.

Baca Juga : Pengurus Muslimat NU Baru Jalankan Amanah dengan Baik Pinta Bupati Kudus

Secara umum berdasarkan pantauan  Dupanews,  Ponpes ABK AA, lumayan bersih, rapi dan ditunjang kondisi lingkungan yang berhawa sejak serta belum terjamah  polusi, Begitu pula kondisi para santrinya – selalu bersih karena tiga kali mandi dan berpakaian yang selalu disterika halus. Sehat kondisi tubuhnya dan selalu nampak ceria. Begitu pula para staf yang selalu mengenakan seragam.

Menurut  pimpinan Ponpes ABK AA,  Moh Faiq Aftoni,  sebelum memiliki tempat sendiri, ia terlebih dahulu mengawalinya dengan menyewa tempat di Desa  Burikan dengan tiga orang santri. Perlahan, tapi pasti  ponpes ini terus berkembang.

“ Tapi sebelumnya saya buka praktek  pengobatan ala nabi yaitu bekam dan akupuktur

Saya juga jualan air minum hexzone dan kolam renang , sehimgga ada “pemasukan” untuk membangun ponses/” ujar pria kelahiran Kudus 1 Maret 1978 ini.

Tentu saja ia terlebih dahulu menimba ilmu pengobatan selama beberapa tahun di sejumlah negara Dan lulus dengan predikat memuaskan.

Sedang herbal yang menjadi menu wajib adalah  setiap pagi setiap santri  meneguk minuman dari bahan alang alang dan serai. Kemudian  dicampur dengan gula merah.

Lalu untuk kesehariannnya  disediakan tiga kali makan. Dengan menu dan lauk berbeda, serta memenuhi unsur makanan empat sehat lima sempurna. Sedang untuk menjaga kesehatan para ABK, disediakan  seorang dokter dan staf

ABK

Anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis ataupun akademik sering disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan ABK.

ABK adalah anak yang mengalami keterbatasan/keluarbiasaan baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.

Secara umum ABK, suatu kondisi dimana anak memiliki karakteristik khusus.

Ponpes ABK AA  saat ini tercatat memiliki 116 santri. Dengan rincian laki-laki  96  dan perempuannya 20. Dari jumlah tersebut  11 diantaranya yatim piatu/duafa.  Sedang yang berstatus Sekolah Dasar Luar Biasa  (SDLB)  58 laki laki,  9 perempuan dan Sekolah Menengah Pertama  (SMP) seorang perempuan dan seorang laki laki.

Lalu untuk menangani pondok , melibatkan tujuh kepala bagian. Yaitu bagian  kesiswaan pagi, siang malam,  bagian  terapi, tutor,, kesehatan, sarana prasarana,  dapur dan satuan pengaman (satpam). Lalu melibatkan pula 110 staf . Belum termasuk pengurus yayasan dan tenaga pendidik.

Subsidi silang

Menurut Faiq,  untuk  bisa “menghidupi’ Ponpes ABK AA, setiap bulannya  harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 170 juta per bulan. Sekitar 80 persennya dibiayai dengan model subsidi silang dari  orang tua/wali santri. Selebihnya biaya pribadi Mengingat saat ini sekitar 40 persen para santri berasal dari kalangan duafa dan yatim. “Pernah dibantu dari Departemen Sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai. Tapi dalam beberapa bulan terakhir dihentikan, Tidak tahu  sebabnya, . Semoga orang orang kaya bisa tergugah  hatinya.- untuk membantu perkembangan pesantren ini” ujarnya.

Sedang metode  untuk menangani ABK itu sendiri  antara lain  menyangkut  kepatuhan,  mengurangi- menghilangi perilaku,  menirukan,  komunikasi, bermain,  kecakapan (menggunting, menempel) , bantu diri, morik dan  bahasa. Lalu setiap terapis harus  mampu bersikap  legowo. Iklas, tulus, kasih sayang  dan sepenuh hati.  (Sup)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button